PERBEDAAN INGIN MENIKAH DAN SIAP MENIKAH
Seseorang yang siap menikah, adalah ia yang memahami bahwa pernikahan tidak lagi tentang ia seorang, melainkan tentang dua hati yang perlu disatukan.
Maka ia siap mengembangkan ruh dalam jiwanya agar tak mudah tersulut dalam emosi dan hawa nafsu, bahkan ia siap menyiapkan ruang yang luas untuk pasangannya, ruang untuk menerima, ruang untuk memaafkan, ruang untuk memaklumi, ruang untuk saling memperbaiki diri, serta ruang-ruang lain yang sekiranya perlu untuk selalu ditanamkan benih-benih kebaikan.
Dan kita juga perlu tau bagaimana perbedaan ingin menikah dan siap menikah
- Seseorang yang berkeinginan untuk menikah, baru sekedar faham bahwa pernikahan adalah sebuah labuhan baru yang bisa membawanya pada harapan-harapan yang indah, kesenangan yang tak lekang oleh waktu, serta kebahagiaan yang menurutnya hakiki. Dirinya secara tidak langsung akan terus menuntut untuk dibahagiakan, hingga lupa ia menyiapkan diri saat ia dikecewakan
- Seseorang yang siap menikah, akan memahami bahwa pernikahan adalah satu sarana untuk membangun harapan-harapan yang diridhoiNya, seperti kita ketahui, membangun merupakan sebuah kata kerja, yang mana tentu memerlukan peroses, kerja keras, dan perjuangan untuk mencapai segala cita dan harapan tersebut.
- Seseorang yang berkeinginan untuk menikah akan mudah untuk merasa 'baper' tatkala melihat pemandangan indah pasangan-pasangan yang menikah di usia muda terpampang di sosial media, di dalam hatinya kerap berkata, " Kapan yaa aku bisa berpose mesra begitu dengan pasangan halalku ?"
Potret mesra bersama pasangan terlebih untuk dipamerkan di media sosial tak sedikitnya menjadi sebuah angan, barangkali ia terlupa bahwa pernikahan tidak selalu identik dengan kemesraan.
-Seseorang yang siap menikah, akan sepenuhnya memahami bahwa pernikahan bukan tentang meluapkan perasaan cinta hingga membuahkan potret kemesraan yang nyata. Ia justru memilih untuk memantapkan bekalnya dengan ilmu-ilmu pernikahan yang kelak akan membantunya dalam mengkokohkan cinta dalam rumah tangga.
Ia menyadari, kerikil maupun badai pernikahan bisa saja datang sebagai ujian dariNya, maka melalui ikhtiar ilmu. Ia siap menghadapi berbagai rintangan dan hantaman yang kelak akan menyapa.
- Seseorang yang hanya berkeinginan untuk menikah, tidak mnggubris dirinya ketika ia masih saja bersifat kekanak-kanakan, menuntut segala sesuatu harus sesuai dengan yang ia rencanakan, tak perduli dengan perasaan orang lain, terus saja berpacu dan bermain dengan emosi dalam dirinya, hingga tak ada lagi ruang untuk orang lain dihatinya , saking egoisnya dia hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang disekitarnya.
Dengan karakter seperti ini ia masih sibuk mengeluh pada Allah, " Kapan ya Allah kau memberikan jodoh impianku ?".
-Sesorang yang sudah siap menikah adalah ia yang memahami bahwa pernikahan tidak lagi tentang ia seorang, melainkan dengan tentang dua hati yang perlu disatukan. Maka ia harus siap mengembakan ruh dalam jiwanya agar tak mudah tersulut emosi dan hawa nafsu. Bahkan ia siap menyiapkan ruang yang luas untuk pasangannya, ruang untuk menerima ruang untuk memaafkan, ruang untuk memaklumi, ruang untuk memperbaiki diri, serta ruang-ruang yang lainnya yang sekiranya perlu untuk ditanamkan benih-benih kebaikan.
-Mereka yang berkeinginan untuk menikah tidak dengan tujuan untuk hidup berkeluarga, hanya menyiapkan diri mereka untuk menjadi sepasang suami dan istri, namun mereka tidak menyiapkan mental untuk menjadi sepasang orang tua. Tidak ada minat belajar untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan tuntunan agama.
Pernikahan hanya dijadikan sebuah fase lanjut dalam kehidupan. Menikah, hamil, melahirakn, menyekolahkan, menafkahi dan seterusnya. Tidak ada keterlibatan mendalam pada kehidupan sang anak, tak ada bounding antara anak dengan orang tua, padahal tumbuh kembang anak dan segalanya bermula dari keluarga.
-Seseorang bisa dikatakan siap menikah, ketika ia memahami esensi sejati pada sebuah pernikahan adalah untuk membentuk sebuah keluarga pula. Tidak hanya tentang terjalinnya hubungan antara aku dan kamu , melainkan untuk hubungan erat antara kta dan anak-anak kita. Itulah sebabnya saat mereka memutuskan untuk menikah, mereka memiliki kesiapan yang baik pula untuk menjadi sepasang orang tua. Adanya mental pembelajar pada diri mereka, menjadi modal awal untuk menghasilkan pola pengasuhan terbaik kepada keturunan-keturunannya kelak.
Pernikahan adalah tentang rangkaian ibadah kepada Allah Ta'aala. Jalanilah dengan ketulusan hati dan sepenuh keimanan, jangan lelah dalam menanam benih-benih kebaikan dalam rumah tangga kita. Dan memupuknya dengan bibit keikhlasan serta kesabara.
Semoga kelak perjuangan ini senantiasa membuahkan keberkaahan.
Aamiin Allahumma Aamiin
Dan semoga dengan sudah mengetahui perbedaan siap dan ingin menikah ini bisa menyadari kita bahwa niat menikah itu bukan karena ingin tapi karena niat ibadah karena Allah Ta'aala .Allahua'lam
...
Jika bermanfaat silahkan dishare
Comments
Post a Comment